March 1, 2013

Candu: Liam Hemsworth

Halo teman-teman,

Tahukah kalian apa yang sedang terjadi pada saya akhir-akhir ini?
Saya sedang kecanduan. Kecanduan Liam Hesmworth.
Lol.

Minggu lalu, ayah saya mengajak nonton film, katanya beliau udah lama ga ke bioskop dan lupa rasanya nonton film di bioskop. Jadi lah kami (saya dan kakak) sebagai anak yang baik, menerima tawaran beliau dan pergi nonton. Akhirnya kita nonton The Expendables 2, karena papa dan mas suka tembak-tembakan (?) dan banyak aktor action yang mereka tahu. Jadi lah kita nonton itu. Nah saya? Saya tahu sih beberapa juga tapi ga sehafal mereka. Ada satu aktor yang saya tahu tapi mereka ngga, siapa? Ya Liam ini *cry*

Tidak hanya berhenti disitu, dua hari lalu saya nonton lagi nih The Last Song di laptop karena kangen gitu sama mas Liam. Terus baru saja, saya selesai nonton The Hunger Games karena ngga sempat nonton di bioskop bulan lalu.

Lalu, lalu apa?!
Lalu saya cuma sedang jatuh cinta lagi aja sama doi.

Sudah ah, pokoknya mas Liam ganteng.
Selamat malam.

*plak*

Billy the Kid


Will Blakelee




Gale Hawthorne


All pictures are form Tumblr.

Saya padamu, bang Liam!
Ngahahahahaha!
SHARE:

February 10, 2013

Cerita: Bingung Mencari Bangku Kuliah

Sekitar enam tahun lalu, ketika mbak ocha mas ido masih SMA, waktu kita diskusi-diskusi bareng papa pertanyaanya masih, Dek Dela ini Sdnya dipindahin ke surabaya ga ya? Biar gampang SMPnya masuk Spensa, gimana? Segitu niatnya masuk SMPN 1 Surabaya sampe bela-belain pindah sd biar rayonnya gampang. Gapapa lah, worth it, akhirnya keterima di Spensa. Terus diskusi ini berubah topik, Dek Dela jadi ikut akselerasi ga ya? Dan akhirnya saya sukses lulus dua tahun dari smp tercinta.

Dua tahun berikutnya, ketika mbak-mas sudah jadi mahasiswa, udah nyemplung jadi mahasiswa Unair dan ITS, pertanyaan berubah lagi, Dek Dela SMAnya gimana ini? Ya harus SMAN 5 dong, tapi ujian sbinya gimana ini, kalo ga keterima smala masuk mana? Nilai akhir nya juga segitu. Tapi Alhamdulillah, berhasil diri ini jadi smalane. Lalu pertanyaan berubah lagi, Ini Dek Dela jadi dimasukkin ta aksel nya? Jadi aksel lagi SMA ini? Dan akhirnya, saya menjadi bagian dari akselerasi Smalabaya angkatan 11.

Satu setengah tahun berlalu, dan akhirnya kami berdiskusi lagi. Ketika mas ido udah training kerja di Jakarta, mbak ocha S2 fttm itb dan pikirannya menjurus ke oil company, kami berbincang lagi. Dek Dela mau kuliah dimana ini? Undangan harus bener-bener dipikir biar ga sia-sia, lawannya juga kaya gitu, kuliah mana ya yang tepat ya?

Kami dipertemukan lagi, berbincang lagi, untuk masa depan saya, bertemu dengan kakak-kakak yang mindsetnya sudah berubah. Yang pikirannya untuk masuk kuliah bukan hanya bagaimana di dalam fakultas tersebut, tapi mereka sudah mengarahkan untuk bekerja. Mbak ocha yang dulunya anak FMIPA tapi sekarang tiba-tiba jadi anak teknik, dan dia kelabakan untuk perubahan yang ndadak, dan dia gamau aku salah ambil jurusan. Mas ido yang dulunya anak teknik, terus kuliah dobel akuntansi, akhirnya dalam dunia kerja dia pakai akuntansinya, dan dia gamau aku salah pilih dan akhirnya ilmu lainnya tidak begitu terpakai.

Ya. Aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku. Mau masuk mana del? Harus banyak berusaha dan berdoa. Harus liat nilaiku, teman-teman lain, dan kemungkinan-kemungkinan kecil harus diperhitungkan. Di posisi-posisi seperti ini, merubah jurusan harus dipikirkan benar. Dan insyaAllah aku akan memilih yang terbaik, dan berguna untuk dunia kerjaku, kelak. For whatever reason, making decision is so hard to do. Because when you make a choice, you change your future.

So, yeah. Make the decision, make it with confidence, and the world will be mine. In the end that was the choice you made, and it doesn’t matter how hard it was to make it. It matters that you did.


--
Adelia Budiarto.
SHARE:

December 31, 2012

2012 Was Really Tiring, But Many Things Await

Surabaya, sore hari.

Hanya beberapa jam menuju tahun baru. Di sini lah saya, mengetik dan memikirkan bagaimana tahun 2012 ini berakhir dan tahun 2013 akan segera datang.

Dua ribu dua belas. Hari-hari saya dipenuhi dengan mengeluh. Sungguh kekanak-kanakan. Saya lihat beberapa postingan tahun ini, isinya hanya saya dan kelelahan. Hahaha. Hal-hal yang membuat saya lelah, membuat saya mengeluh, ya sudah, hanya berhenti di situ saja. Bahwa saya mengeluh saya lelah. Percuma juga saya ulangi lagi mengatakannya, tidak akan habis akal untuk merinci hal-hal tersebut. Padahal, dibalik kelelahan itu, setelah semua keluhan itu, saya masih punya tanggung jawab dan hal-hal besar yang akan dating. Iya, perjuangannya masih panjang. Buang-buang waktu jika harus mengeluh sekali lagi sekarang.

Besok, tahun baru akan datang.

Dua ribu tiga belas. Dua ribu tiga belas. Dua ribu tiga belas.
Saya ulangi terus kata-kata itu sembari muncul gambaran-gambaran di kepala saya akan hal yang akan terjadi. Dua ribu tiga belas, saya  terus berpikir tentang hal-hal yang saya impikan, yang ingin saya capai. Dua ribu tiga belas, saya ulangi terus, sampai kata-kata itu tak bermakna.

Dua ribu tiga belas, tahun dimana saya akan enam-belas-tahun menginjakkan bumi ini. Saya yakin tahun ini akan banyak hal-hal baru. Saya tahu, sebentar lagi harus melaksanakan ujian akhir di bangku SMA, saya tahu saya harus mengikuti Ujian Nasional, saya tahu saya harus berusaha mencari dan mendapatkan bangku di universitas yang saya inginkan. Saya tahu saya tidak akan menjadi siswi sma lagi, saya tahu saya akan naik tingkat menjadi seorang mahasiswi. Saya tahu saya akan menghadapi kehidupan baru di kampus. Ya, saya tahu. Saya tahu. Tapi, saya tidak tahu apakah semua itu akan berjalan lancar, apakah semua itu akan berjalan sesuai keinginan saya, apakah saya mampu mencapai semuanya, apakah apakah apakah, entahlah.

Saya tahu, ya, kalau diatas sana, ada Yang Maha Kuasa, yang akan mendengar doa saya ini. Jika benar doa saya ini memang benar-benar tulus dan sungguh-sungguh, saya tahu bahwa Allah SWT akan mendengarnya, dan insyAllah memudahkan jalannya.

Saya tahu, memang saya harus berusaha lebih keras lagi. Sungguh-sungguh berusaha dan sungguh-sungguh berdoa. Saya tahu kok, pertanyaan saya sendiri sebenarnya telah memiliki jawabannya. Saya paham.

 “Sesungguhnya permasalahan dan jalan keluar itu jaraknya sejauh kening dan tempat bersujud”

Bismillahirrahmanirrahim,

Adelia Budiarto
SHARE:

November 8, 2012

Cerita: Kami Terpisah

Senin, 5 November 2012,

Seperti biasa, aku memulai hari dengan berangkat sekolah. Ya, seperti biasanya, bangun pagi, bersiap, dan pergi menuntut ilmu. Kedua kakakku juga melakukan hal yang sama, pergi untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman hidup. Tapi, perbedaannya untuk pagi ini, aku, Mbak Oca, Mas Ido, memulai hari di tiga tempat yang berbeda. Ya, kami terpisah.

Sebelumnya, kami juga pernah berpisah, tapi paling kami cuma terpisah antara rumah dan  kos-kosan, atau sedang berlibur, atau dimana lah, tapi untuk waktu yang singkat. Dan kali ini, kami bertiga tepisah lagi, memang bukan pertama kalinya, tapi sepertinya dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sekarang, kamu, Mbak Oca, yang pergi meninggalkan rumah duluan dan hijrah ke bandung, benar-benar sendirian. Melihatmu yang dulunya sama sekali tidak ingin masuk FK, lalu memilih untuk masuk Statistika ITS, hidup bersama angka-angka dan ketidakpastian itu, tiba-tiba dengan kemampuanmu kamu bisa menerima beasiswa S2 TM ITB oleh TOTAL E&P. Kamu kira aku tidak kaget? Bisa-bisanya pindah jurusan dari MIPA ke perminyakan? Namun aku tidak pernah ragu dengan semua kemampuanmu, Mbak. Aku ingat bagaimana kamu sudah pernah frustasi karena namamu dicoret dari beasiswa Fast-Track padahal kamu sudah sebulan mengikuti perkuliahan S2-nya, aku masih ingat semuanya, bagaimana perjuanganmu, bagaimana kamu, yang tak pernah putus asa.

Lalu, kamu, Mas Ido, apa kabar kamu sekarang? Kamu yang setiap sore kerjaannya basket di kompleks, menang basket dimana-mana, masak mau pertama kali training kerja kamu malah sakit. Gimana sih kok lemah? Sampai Papa harus mengantarkanmu yang sudah begitu besar ke sana. Huft. Namun aku bangga sekali denganmu, Mas. Aku masih ingat bagaimana galaunya kamu waktu mau berangkat umroh karena ada wawancara BRI yang posisinya udah kamu incar, yang km gagal di tes awal sebelumnya dan ketika gelombang kedua, kamu peringkat teratas tes awal, namun karena niat kita berangkat umroh kamu jadi merelakan kesempatan itu. Namun memang semua ada di tangan Allah. Sampai-sampai suatu siang sebelum sholat jumat di Masjidil Haram, ada telepon dari BRI pusat yang menawarkanmu wawancara susulan-bisanya sebelum sholat jumat di tanah haram, dari pusat bri jakarta telfon, dan akhirnya kamu bisa ikut wawancara susulan. Namun ya, semua memang kembali ke takdir Allah, pada akhirnya dari semua proses itu, kamu berhenti karena gagal tes kesehatan. Aku juga ingat, betapa frustasinya kamu ketika tahu gagal tes kesehatan, padahal pikirku hanya kamu satu-satunya orang paling sehat di rumah. Kamu aja yang rajin olahraga gagal, lah aku kepikiran gimana aku nanti hahahaha. Dan aku juga ingat, bagaimana kamu sedihnya bicara padaku "Dek, mau seberapa pinternya hebatnya kamu, kalau kamu gagal tes kesehatan, buat apa? Kamu lo sakit." dan kamu berhari-hari terdiam tidak bisa diajak bicara. Namun, kamu membuktikan semua itu tidak benar, kan? Ya kamu aja sih mau tes kesehatan malah makan gulai, yakali, Mas, tolong. Dan saat ini, kamu sudah mengikuti OJT salah satu Kontraktor BUMN terbesar di Indonesia. Well, good luck, Mas.

Mungkin rasanya terlalu berlebihan, cuma kepisah Jakarta-Bandung-Surabaya aja segitunya. Tapi gimana ya. Kita memang terlalu dekat, ya gak sih, Mbak Mas? Tiap hari ketemu, ngapa-ngapain bareng, lucu-lucuan, ketawa ketawa, pukul-pukulan, tendang-tendangan, dan kalian ga akan pernah puas ngejailin aku, sampai akhirnya aku nangis. It always happen, every single day. Dan sekarang, kita semakin menjauh, kalian uda mulai mau kerja, sedangkan aku? Masih usaha mati-matian cari universtitas. Aku gatau lagi nanti kalo kalian sudah menikah, bakal kaya gimana? Gabisa dong ngasih upil lagi ke kalian? Ngahahaha.

But, this is life, we have to keep moving forward. And yea, we often insane with happiness. And we are also very unhappy for reasons neither of us can do anything about, like being separated. But I knew this separation will bring new things for us, it will grow us. Well, keep up the good work, Mbak Mas!


Sincerely,

The worst little sister ever,
Adelia Budiarto
SHARE:

September 29, 2012

Cerita: SMA, Capek.

Bangun pagi, mandi, sholat, makan, jam 6.15 udah di sekolah, sekolah sampai jam 3, belum kalau ada les GO, habis sekolah lanjut les, sampai jam setengah 8 baru pulang, balik ke kos, dan belum lagi kalau minggu-minggu ulangan, baru pulang jam setengah 8 harus lanjut belajar buat ulangan besok. Sudah. Setiap harinya rutinitas selalu sama. Berangkat pagi, pulang malam. Sabtu dan Minggu baru bisa di rumah, itu pun ditemani segedabrek tugas. Hari-hari lain dihabiskan di kos. Sudah sedemikian rupa, saya mencoba menata waktu, menata agar aktivitas saya efektif. Dan memang ya ini, diatur pun, memang kenyataannya haru seperti ini, harus berlelah-lelahan setiap malamnya.

Malam ini, harusnya nonton pre-competition concert psgs, tapi karena tiket student udah ludes, ditambah badan gaenak, yasudah mari bermalam minggu di kamar. Dan sekarang ini, saya capek. Ya capek dengan rutinitas ini, tapi ya gimana lagi, memang harus gini kan. Inhale exhale. Tapi saya sadar kok, kalau ini semua ada ujungnya kan, hanya ada dua kemungkinan dari semua ini, antara kepuasan atau kekecewaan. Dan siapa pun juga, saya tidak terkecuali, karena saya ingin dan sudah kecemplung di situasi ini, saya akan memilih mendapatkan kepuasan di akhir. Tapi memang saya siapa? Kok seenaknya milih ini itu? Hanya Allah yang akan menentukan, tapi kita bisa berusaha mewujudkan yang kita harapkan.

Hanya dua hal, berdoa dan berusaha. Itu sudah menjadi wejangan setiap orang sepertinya. Termasuk saya. Saya juga ingin segala kerja keras ini worth it. Ada hasilnya. Memang proses lebih baik dari hasil, tapi ketika kamu bisa mendapatkan hasil terbaik dari prosesmu itu, kenapa tidak? Saya juga berusaha, dan saya sadar kalau saya tidak sendiri. Saya punya teman, anak sekelas saya juga ada yang merasakan hal yang sama, mbak-mas kelas 12 juga pasti, para siswa-siswi akhir sma, pasti juga melakukan hal yang sama. Banyak ternyata yang sama dengan saya. Dan orang yang paling dekat dengan segala kelelahan ini, teman sekelas saya, Anggun Tera Rahmasari. Pagi-pagi bangun, berangkat sekolah jalan bareng dari kos, sampe selesai les jam setengah 8 malam pun kita nyebrang jalan bareng, sampai di kos dengan selamat. Apalagi kita cuma 2 tahun di sma, sekarang aja materinya baru belajar turunan padahal yang lain udah mau habis haha. Pasti dia juga pernah merasakan capek-capekan seperti saya, tapi setiap pagi kita harus sekolah lagi kan? Dan biar sekolah itu ga sia-sia, kita harus membuka semangat baru setiap harinya kan?

Kita (saya dan siapapun yang merasa senasib) pasti lelah, memang capek. Tapi ya gamau kan semuanya berakhir dengan penyesalan? Siapa sihyang mau. Sudah tau kalau penyesalan selalu datang di akhir, penyesalan karena gagal mencapai hal yang selama ini diharapkan. Dan penyesalan itu ga mungkin dateng gitu aja, mungkin karena kurang usaha sebelumnya, mungkin kurang berdoa, entahlah. Tapi, saya gamu ikut menyesal nantinya. Sekarang aja sudah menyesal kenapa dulu saat kelas sepuluh, ga bener-bener ngerti matematika, sampai akhirnya sekarang lupa semua persamaan kuadrat. Saya gamau menyesal lebih jauh. Karena saat saya menulis ini, saya belum pada tahap menyesal, saya dalam tahap menyadari, menyadari bahwa saya kurang disana-sini, menyadari bahwa saya masih bisa memperbaiki keadaan ini, menyadari bahwa ada keluarga dan teman yang mendukung untuk mencapai cita-cita, menyadari bahwa saya ingin menjadi mahasiswi di jurusan dan kampus yang sudah saya impikan, maka saya masih harus banyak berusaha. Dan berdoa.

Baiklah, saya sadar, kalau saya, saya masih bisa. Saya sadar, bahwa saya tidak mau menyesal nantinya.

Bismillahirrahmanirrahim.


--
Adelia Budiarto
SHARE:
Blogger Template Created by pipdig