Kali ini saya ingin berbagi cerita ketika bersama teman-teman menjadi relawan dalam kegiatan 1000 Guru Surabaya bulan Mei lalu. Seribu Guru saat ini merupakan sebuah wadah untuk melakukan aksi sosial nyata dengan turun langsung membantu pendidikan anak-anak di pedalaman. Kegiatan yang saya ikuti namanya Travelling and Teaching, jadi kami sebagai volunteer akan menjadi “guru” di sebuah sekolah di pedalaman sambil jalan-jalan. Kenapa kok harus sambil jalan-jalan? Hahaha jadi katanya sih dulu penggagas komunitas 1000 Guru ini merupakan kumpulan orang-orang yang suka travelling, mereka naik gunung, main di pantai, jalan-jalan ke pelosok Indonesia, sampai mereka mencapai sebuah titik kalau jalan-jalan ini seharusnya bisa lebih bermanfaat, dan akhirnya memutuskan bahwa “mengajar” anak-anak di sekitar tempat tujuan perjalanan mereka adalah jawabannya. Jauh sebelum sekarang, 1000 Guru adalah sebuah akun inspirasi di media sosial twitter untuk berbagi informasi mengenai pendidikan di pedalaman dan perbatasan negeri sampai akhirnya sekarang komunitasnya tersebar di 35 regional di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Buka link ini untuk informasi selengkapnya.
July 1, 2016
Cerita: Menjadi Volunteer 1000 Guru Surabaya
June 30, 2016
Belajar: Menjadi Mahasiswa
Diskusi beberapa saat lalu berujung pada sebuah nasihat dari Ayah untuk saudara laki-laki saya yang baru saja menjadi seorang mahasiswa baru, beliau mengatakan “Jadi mahasiswa itu harus ada nakalnya, jangan cuma kuliah aja, kuliah lho ada jatah bolosnya, dipakai aja. Dipakai buat aktif diluar, ikut kegiatan sana sini, aktif organisasi, jalan-jalan, main, naik gunung, tapi jangan kebablasan, dan tetep harus pinter, berprestasi, ujian harus bisa, nilainya IPKnya wajib bagus, tapi jangan lupa seneng-seneng.”
Dan saya yang mendengarkan hanya bisa geleng-geleng bicara sama diri saya sendiri, ini saudara saya baru mau kuliah kenapa wejangannya kaya gini banget, rasanya tiga tahun lalu saya tidak diberikan wejangan yang serupa.
Dan saya yang mendengarkan hanya bisa geleng-geleng bicara sama diri saya sendiri, ini saudara saya baru mau kuliah kenapa wejangannya kaya gini banget, rasanya tiga tahun lalu saya tidak diberikan wejangan yang serupa.
“Kak, gimana caranya biar kaya kakak?”
“Lah, kenapa kok kaya aku, dek?”
“Ya gituuu, aktif, ikut ini itu, menang sana sini, dan tetep pinter, IP-nya bagus, gimana kak?”
“Well…. I think you asked to the wrong person. Lol.”
April 29, 2016
Belajar: Tujuan Hidup
“Terakhir, dari apa yang telah kamu lakukan, apa yang sedang kamu lalui, dan apa yang akan kamu tuju, sebenarnya apa yang kamu mau, Dek? Apasih yang kamu cari? Apa semuanya berkaitan?”
“Sederhana namun tidak mengada-ada, saya hanya ingin terus belajar, mencari tahu lebih banyak hal, dan terus memperbaiki diri”
Dia diam sejenak.
“Dek, jawaban kamu itu lho, terlalu klise, jawabanmu itu jawaban pageant banget.”
Katanya sambil mengernyitkan dahi.
…
Ha?
Dan saya terdiam sesaat. Itu respon macam apa, pikirku. Aku menjawab dengan baik dan benar, rasaku. Tidak ada yang salah atas niat baikku itu. Apa mungkin cara bicaraku yang membuat mereka merasa apa yang kukatakan hanya buaian? Apa tatap mataku yang kurang menunjukkan keseriusan? Apa sih, yang salah?
Dan saya terdiam sesaat. Itu respon macam apa, pikirku. Aku menjawab dengan baik dan benar, rasaku. Tidak ada yang salah atas niat baikku itu. Apa mungkin cara bicaraku yang membuat mereka merasa apa yang kukatakan hanya buaian? Apa tatap mataku yang kurang menunjukkan keseriusan? Apa sih, yang salah?
February 2, 2016
Belajar: Memfilter
Sebenarnya postingan ini sudah ada sebelumnya yang saya tulis tahun baru kemarin, dan rasanya lebih baik saya perbaiki haha. Di tulisan sebelumnya saya tulis I realized that there are too much trashy and nasty posts I made lol dan ya memang benar ya huahaha. Lalu saya memutuskan untuk menonaktifkan dulu halaman ini agar tidak lebih banyak lagi orang di luar sana yang membaca trashy-nasty-post-i-made.
Malu? Pencintraan? Hahaha mungkin iya juga kali ya. Tapi sebenarnya lucu melihat kembali diri saya sebelumnya saat masih di bangku SMP dan SMA dulu yang suka menulis dan membagi cerita sehari-hari yang sesungguhnya tidak penting untuk dibaca oleh orang lain. Mungkin dulu saya pingin jadi seperti Raditya Dika yang memulai segalanya dengan kambingjantan-nya, namun gagal, atau melihat postingan saya yang isinya foto-foto saya sendiri, mungkin dulu saya punya cita-cita biar seperti Dian Pelangi, namun juga gagal. Hahahaha.
December 31, 2015
2015: The Farthest Version of Myself
Hai,
Selamat sore.
Tahun lalu, di postingan ini saya merasa telah mencoba
banyak hal baru. Mulai dari ikut Himpunan, turun ke banyak kepanitiaan, ikut
seleksi delegasi kampus, menginjakkan kaki di negeri Paman Sam. Sampai mencoba memulai sebuah hubungan. Tahun lalu
saya berproses, saya menerima kegagalan, mencoba berdamai dengan keadaan, dan
bangkit lebih tinggi. Dan tahun ini, ternyata saya telah mencoba lebih banyak
hal baru. Tidak hanya berdamai dengan keadaan, tapi saya memperbaiki keadaan
dan berusaha menjadi jauh lebih baik.
Di sini lagi, di penghujung tahun. Lagi-lagi, seperti
kebiasaan, saya ingin menuliskan hal-hal yang telah saya lalui. Yang nantinya bisa
menjadi cerminan diri saya untuk melihat ke belakang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
©
Adelia Budiarto | All rights reserved.

